INFO OBAT INDONESIA

Obat Pilihan Batuk dan Pengencer Dahak

Mukolitik diresepkan untuk membantu ekspektorasi dengan mengurangi viskositas sputum. Mukolitik mengurangi eksaserbasi pada beberapa pasien penyakit paru obstruktif kronis dan batuk produktif kronis. Pengobatan harus dihentikan jika tidak ada manfaat setelah 4 minggu pemberian. Inhalasi uap dengan drainase postural efektif pada bronkiektasis dan beberapa kasus bronkritis kronik. Mukolitik harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat ulserasi peptik karena dapat merusak sawar mukosa lambung.

Mukolitik adalah obat yang digunakan untuk mengencerkan dahak pada saluran pernapasan. Obat ini bekerja dengan cara menghambat kerja sel yang menghasilkan dahak atau mukus, sehingga menghasilkan dahak yang tidak kental dan mudah untuk dikeluarkan.

Mukolitik (mucolytic) adalah suatu jenis obat yang digunakan untuk mengencerkan mukus (dahak) yang kental sehingga mudah dikeluarkan. Obat ini bekerja dengan cara melepas ikatan gugus sulfidril pada mucoprotein dan mukopolisakarida sehingga menurunkan viskositas mucus. Sebagai hasil akhir, dahak tidak lagi bersifat kental dan dengan begitu mudah dikeluarkan dari tenggorokan sehingga membuat saluran nafas bebas dari dahak.

Obat-obat yang termasuk agen mukolitik bisa mengurangi eksaserbasi pada beberapa pasien yang menderita penyakit paru obstruktif kronis dan batuk produktif kronis.

Obat-obat yang termasuk agen mukolitik

Agen mukolitik bisa dipasarkan berupa bentuk tablet atau larutan cair (liquid solution). Obat ini biasanya digunakan secara oral atau untuk inhalasi. Berikut adalah beberapa obat yang termasuk agen mukolitik :

  • Erdosteine
  • Acetylcysteine
  • Bromhexin
  • Carbocysteine
  • Guiafenesin
  • Iodinated glycerol
  • Ambroxol
  • Mecysteine
  • Dornasealfa

BROMHEKSIN

  • Indikasi: Oral: mukolitik untuk meredakan batuk berdahak. Injeksi: sekretolitik pada bronkopulmonari akut dan kronik terkait sekresi mukus abnormal dan gangguan saluran mukus.
  • Peringatan:
    • Tukak lambung, kehamilan, menyusui, penghentian pengobatan jika terjadi lesi kulit atau mukosa.
    • Kategori kehamilan dan menyusui Kategori A: Studi terkontrol pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya risiko terhadap janin, dan kecil kemungkinannya untuk membahayakan janin.Belum diketahui apakah bromhexine dapat diserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter.
  • Kontraindikasi: Hipersensitivitas.
  • Efek Samping: Hipersensitivitas, syok dan reaksi anafilaktik, bronkospasme, mual, muntah, diare, nyeri perut bagian atas, ruam, angioedema, urtikaria, pruritus.
  • Dosis:
    • Oral: diminum saat perut kosong (1 jam sebelum – 2 jam sesudah makan). Tablet 8 mg atau sirup 4 mg/5mL: Dewasa dan anak-anak >10 tahun: 1 tablet atau 10 mL sirup 3 kali sehari, anak 5-10 tahun: 1/2 tablet atau 5 mL sirup 3 kali sehari, anak 2-5 tahun: 1/2 tablet atau 5 mL sirup 2 kali sehari.
    • Cairan injeksi 4 mg/2 mL: 1 ampul (waktu pemberian 2-3 menit) sebanyak 2-3 kali sehari, dapat diberikan sebagai cairan infus intravena bersama glukosa, fruktosa, garam fisiologis, dan larutan ringer.
Baca  Daftar Obat Generik dan BPJS Untuk Saluran Napas

Meredagang

Exovon, Mucotussan, Bromika, Bronkris, Rexcof, Hufasulvon Kids, Solvinex, Bromevon, Siladex Mucolytic & Expectorant, Bromifar, Erphahexin, Hustab, Bromhexine HCL, Bronex, Farmavon, Wibrom, Hexon, Bisolvon, Benadryl Wet Cough, Novaheksin, Halmezin, Graxine, Mextril Expectorant, Bodrexin Flu dan Batuk, Fortusin, Dexolut, Mucohexin, Oskadon Flu dan Batuk Berdahak, Wood’s Peppermint Expectorant, Phytovon, Ethisolvan, Hexinal, Celovon, Bromedcyl, Mucosolvan, Mosavon, Thephidron, Poncosolvon, Miravon, Intibronko Plus, Nufadipect


AMBROKSOL

  • Peringatan: ambroksol hanya dapat digunakan selama kehamilan (terutama trimester awal) dan menyusui jika memang benar-benar diperlukan; pemakaian selama kehamilan dan menyusui masih memerlukan penelitian lebih lanjut; ambroksol tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang lama tanpa konsultasi dokter; dalam beberapa kasus insufisiensi ginjal, akumulasi dari metabolit ambroksol terbentuk di hati.
  • Interaksi: Pemberian bersamaan dengan antibiotik (amoksisilin sefuroksim, eritromisin, doksisiklin) menyebabkan peningkatan penerimaan antibiotik kedalam jaringan paru-paru.
  • Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap ambroksol.
  • Efek Samping:
  • Reaksi intoleran setelah pemberian ambroksol pernah dilaporkan tetapi jarang; efek samping yang ringan pada saluran saluran cerna pernah dilaporkan pada beberapa pasien; reaksi alergi (jarang); reaksi alergi yang ditemukan: reaksi pada kulit, pembengkakan wajah, dispnea, demam; tidak diketahui efeknya terhadap kemampuan mengendarai atau menjalankan mesin.
  • Dosis: Dewasa: kapsul lepas lambat 1 kali sehari 75 mg, sesudah makan. Dewasa dan anak di atas 12 tahun:1 tablet (30 mg) 2-3 kali sehari; Anak 6-12 tahun: 1/2 tablet 2-3 kali sehari. Sirup tetes (drops): 15 mg/ml drops (1 mL= 20 tetes): Anak s/d 2 tahun: 0,5 mL (10 tetes) 2 kali sehari; Ambroksol drops dapat dicampur bersama dengan sari buah, susu atau air.Sirup 15 mg/5 mL (1 sendok takar = 5 mL): Anak usia 6-12 tahun: 2-3 kali sehari 1 sendok takar; 2-6 tahun: 3 kali sehari 1/2 sendok takar; di bawah 2 tahun: 2 kali sehari 1/2 sendok takar.
Baca  Epigallocatechin-3-gallate melindungi peradangan saluran nafas

 

ASETILSISTEIN

Acetylcysteine adalah obat golongan mukolitik yang berfungsi untuk mengencerkan dahak yang menghalangi saluran pernapasan. Oleh karena itu, obat ini tidak cocok diberikan untuk penderita batuk kering. Dahak kental yang menempel dan menghambat saluran pernapasan biasanya muncul akibat penyakit pada paru-paru, yang meliputi bronkitis, tuberkulosis, pneumonia, serta cystic fibrosis. Obat ini bekerja dengan cara mengencerkan dahak sekaligus membantu untuk melancarkan saluran pernapasan.

  • Indikasi: terapi hipersekresi mukus kental dan tebal pada saluran pernapasan.
  • Peringatan:
    • pasien yang sulit mengeluarkan sekret, penderita asma bronkial, berbahaya untuk pasien asma bronkial akut.
    • Hamil Menyusui: Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Belum ada studi terkontrol mengenai penyerapan acetylcysteine ke dalam ASI. Bagi ibu menyusui, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar manfaat dan risikonya dapat dipertimbangkan.
  • Kontraindikasi: hipersensitif terhadap N-asetilsistein.
  • Efek Samping: pada penggunaan sistemik: menimbulkan reaksi hipersensitif seperti urtikaria dan bronkospasme (jarang terjadi). Pada penggunaan aerosol, iritasi nasofaringeal dan saluran cerna seperti pilek (rinore), stomatitis, mual, muntah.
  • DOSIS
  • Oral
    • Dewasa dan anak usia >7 tahun: 600 miligram per hari sebagai dosis tunggal, atau dibagi menjadi tiga dosis.
    • Anak usia 1-24 bulan: 100 mg, 2 kali sehari.
    • Anak usia 2-7 tahun: 200 mg, 2 kali sehari.
  • Suntik
    • Dewasa dan anak dengan berat badan >40 kg: Sebagai dosis awal, infus 150 mg/kgBB (maksimal 16,5 g) dilarutkan dalam cairan 200 mL, selama 60 menit.Lanjutkan dengan dosis 50 mg/kgBB (maksimal 5,5 g) dilarutkan dalam cairan 500 mL, selama 4 jam. Selanjutnya 100 mg/kgBB (maksimal 11 g) dilarutkan  dalam cairan 1 L, selama 16 jam.
    • Anak dengan berat badan 20-40 kg: Sebagai dosis awal, 150 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 100 mL, selama 60 menit.Lanjutkan dengan dosis 50 mg/kg dilarutkan dalam cairan 250 mL, selama 4 jam.Lanjutkan kembali dengan 100 mg/kg/BB dilarutkan dalam cairan 500 mL, selama 16 jam.
    • Anak dengan berat badan <20 kg: Sebagai dosis awal, infus 150 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 3 mL/kgBB, selama 60 menit.Lanjutkan dengan dosis 50 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 7 mL/kgBB, selama 4 jam.Selanjutnya 100 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 14 mL/kgBB, selama 16 jam
Baca  Obat Pilihan Flu Pilek atau Decongestan dan Efek Sampingnya

ERDOSTEIN

  • Indikasi: mukolitik, pembasah pada afeksi saluran nafas akut dan kronis.
  • Peringatan: hamil, menyusui, diabetes mellitus (untuk granul).
  • Kontraindikasi: hipersensitif terhadap produk, pasien sirosis hati dan kekurangan enzim crystathionine sintetase, fenilketonuria (hanya pada granul), pasien gagal ginjal (dengan klirens keratin < 25mL/min). Efek Samping: tidak ditemukan efek terhadap saluran pencernaan dan efek sistemik. Dosis: Dewasa: 150-350 mg 2-3 kali sehari. Anak: Berat badan 15-19 kg: 175 mg 2 kali sehari; 20-30 kg: 175 mg 3 kali sehari; > 30 kg: 350 mg 2 kali sehari.

KARBOSISTEIN

  • Indikasi: mengurangi viskositas sputum.
  • Kontraindikasi: ulkus peptik aktif.
  • Efek Samping: kadang-kadang iritasi saluran cerna, ruam.
  • Dosis: dosis awal 750 mg 3 kali sehari, kemudian 1,5 g/hari dalam dosis terbagi Anak 2-5 tahun 62,5-125 mg 4 kali sehari; 6-12 tahun 250 mg 3 kali sehari.

MESISTEIN

  • Indikasi: mengurangi viskositas sputum.
  • Efek Samping: mual, rasa terbakar pada jantung.
  • Dosis: 200 mg 4 kali sehari selama 2 hari, selanjutnya 200 mg 3 kali sehari selama 6 minggu, selanjutnya 200 mg 2 kali sehari; Anak berusia di atas 5 tahun 100 mg 3 kali sehari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Whatsapp Obat, Chat Di Sini