Status Bukti Klinis antivirus Lopinavir / Ritonavir dalam pengobatan COVID-19 Tidak Direkomendasikan

Status Bukti Klinis antivirus lopinavir / ritonavir dalam pengobatan COVID-19 Tidak Direkomendasikan

Panel NIH untuk Pedoman Perawatan COVID-19 merekomendasikan untuk tidak menggunakan lopinavir / ritonavir atau penghambat protease HIV lainnya, karena farmakodinamik yang tidak menguntungkan dan karena uji klinis belum menunjukkan manfaat klinis pada pasien dengan COVID-19. National Institutes of Health, (NIH) adalah lembaga Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat dan lembaga utama pemerintah Amerika Serikat yang menangani penelitian biomedis dan kesehatan. 

Dua puluh tahun lalu, F.D.A. menyetujui kombinasi obat ini untuk mengobati H.I.V. Baru-baru ini, para peneliti mencobanya pada virus korona baru dan menemukan bahwa mereka menghentikan replikasi virus. Tetapi uji klinis pada pasien terbukti mengecewakan. Pada awal Juli, Organisasi Kesehatan Dunia menangguhkan uji coba pada pasien yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19. Mereka tidak mengesampingkan penelitian untuk melihat apakah obat tersebut dapat membantu pasien yang tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, atau untuk mencegah orang yang terpapar virus corona baru jatuh sakit. Obat tersebut juga masih dapat berperan dalam pengobatan kombinasi tertentu. BUKTI ILMIAH menurut Drug Tracker dari New York Time status bukti ilmiahnya juga dinyatakan tidak menjajikan meski terdapat bukti awal pada sel hewan dan manusia.

Dalam uji coba label terbuka secara acak, terkontrol pada orang dewasa yang dirawat di rumah sakit (n = 199) dengan infeksi SARS-CoV-2 yang dikonfirmasi, pasien yang direkrut memiliki saturasi oksigen 94% atau kurang di udara ambien atau PaO2 kurang dari 300 mmHg dan menerima berbagai mode dukungan ventilasi (misalnya, tidak ada dukungan, ventilasi mekanis, oksigenasi membran ekstrakorporeal [ECMO]). Pasien-pasien ini diacak untuk menerima lopinavir / ritonavir 400 mg / 100 mg PO BID selama 14 hari ditambahkan ke perawatan standar (n = 99) atau perawatan standar saja (n = 100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu perbaikan klinis tidak berbeda antara kedua kelompok (median, 16 hari). Tingkat kematian pada 28 hari secara numerik lebih rendah untuk lopinavir / ritonavir dibandingkan dengan perawatan standar (19,2% vs 25%) tetapi tidak mencapai signifikansi statistik.  Sebuah editorial menyertai studi ini yang informatif berkenaan dengan keadaan luar biasa untuk melakukan studi semacam itu di tengah wabah.

Baca  Efek Pencegahan Potensial EGCG Pada HIV1 Dengan memodulasi pengikatan CD4

Penelitian lain (n = 86) yang membandingkan monoterapi lopinavir / ritonavir atau umifenovir dengan perawatan standar pada pasien dengan COVID-19 ringan hingga sedang menunjukkan tidak ada perbedaan statistik antara setiap kelompok pengobatan.

Sebuah penelitian multisenter di Hong Kong membandingkan terapi tiga kali lipat selama 14 hari (n = 86) (lopinavir / ritonavir [400 mg / 100 mg setiap 12 jam], ribavirin [400 mg setiap 12 jam], interferon beta1b [8 juta IU x 3 dosis setiap 48 jam]) dengan lopinavir / ritonavir saja (n = 41). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi tiga kali lipat secara signifikan mempersingkat durasi pelepasan virus dan rawat inap di rumah sakit pada pasien dengan COVID-19 ringan hingga sedang.

.

loading...

www.obatonline.com

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2020, www.obatonline.com INFO ONBAT INDONESIA,  Information Education Network. All rights reserved

 

Материалы по теме:

Imvermektin, Anti Virus Covid19 dan Bukti Ilmiahnya
Pandemi Covid-19 adalah salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi pengobatan modern. Para dokter dan ilmuwan berebut menemukan pengobatan dan obat yang dapat menyelamatkan ...
Penanganan Terkini Covid-19
Saat ini, hanya satu obat yang disetujui untuk mengobati COVID-19. Tidak ada obat yang tersedia untuk COVID-19. Antibiotik tidak efektif melawan infeksi virus seperti ...
Tanda Gejala COVID19 Berdasarkan Data 72.314 Kasus Penderita Covid19
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Baca  Penderita Pnemonia Covid19, 13% Tidak Mengalami Gejala Awal Demam.
Penyakit yang dilaporkan dengan gejala ringan hingga orang yang sakit parah dan kritis.   Gejala dapat termasuk: Demam Batuk Sesak napas Gejala COVID-19 Pusat ...
Penemuan Obat Covid19 Baru ? Statin Turunkan Kematian COVID-19
Pengobatan dengan statin dikaitkan dengan penurunan risiko COVID-19 yang parah atau fatal sebesar 30%, sebuah meta-analisis dari empat penelitian yang diterbitkan telah menunjukkan. Dalam ...
Teori Herd Immunity Dalam Membasmi Wabah Covid19
dr Widodo Judarwanto, pediatrician Secara umum terdapat tiga cara untuk menghentikan penyakit Covid-19 untuk selamanya. Salah satunya melibatkan pembatasan luar biasa pada pergerakan dan kontak ...
Baca  Plasma Konvalesen Pada Covid19, Belum Direkomendasikan dan Belum Ditolak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *