INFO OBAT INDONESIA

Kenali Faktor Resiko Terkena Covid19

Widodo Judarwanto

Risiko tergantung pada karakteristik virus, termasuk seberapa baik ia menyebar di antara orang-orang; tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan; dan tindakan medis atau tindakan lain yang tersedia untuk mengendalikan dampak virus (misalnya, vaksin atau obat yang dapat mengobati penyakit) dan keberhasilan relatif dari hal tersebut. Dengan tidak adanya vaksin atau pengobatan, intervensi nonfarmasi menjadi strategi respons yang paling penting. Ini adalah intervensi masyarakat yang dapat mengurangi dampak penyakit.

Risiko dari COVID-19 untuk orang Amerika dapat dipecah menjadi risiko pajanan versus risiko penyakit serius dan kematian.

Risiko pajanan:

  • Jabodetabek Risiko langsung terkena virus ini masih rendah untuk daerah tertentu, tetapi ketika wabah meluas ke seluruh propinsi, risiko itu akan meningkat. Kasus COVID-19 dan contoh-contoh penyebaran komunitas dilaporkan di semakin banyak negara bagian.
  • Orang-orang di tempat-tempat di mana penyebaran virus yang menyebabkan COVID-19 oleh masyarakat yang sedang berlangsung dilaporkan berada pada risiko yang tinggi untuk terpajan, dengan tingkat risiko yang bergantung pada lokasi.
  • Petugas kesehatan yang merawat pasien dengan COVID-19 berisiko tinggi terpajan.
  • Kontak dekat orang dengan COVID-19 juga berisiko tinggi terpajan.
  • Wisatawan yang kembali dari lokasi internasional yang terkena dampak di mana penyebaran komunitas terjadi juga berisiko tinggi terpajan, dengan tingkat risiko bergantung pada tempat mereka bepergian.

Risiko Penyakit Parah:

Informasi awal dari Tiongkok, tempat COVID-19 pertama kali dimulai, menunjukkan bahwa beberapa orang berisiko lebih tinggi sakit parah akibat penyakit ini. Ini termasuk:

  • Orang dewasa yang lebih tua, dengan risiko meningkat berdasarkan usia.
  • Orang yang memiliki kondisi medis kronis yang serius seperti:
    • Sakit Jantung kronis
    • Diabetes
    • Sakit Paru Kronis

17 Kondisi Menunjukkan Kekebalan Tubuh Tidak Bagus dan Beresiko Mudah Tertular Virus Corona dan Virus lainnya

  1. Orang berusia 65 tahun ke atas. Orang yang tinggal di panti jompo atau fasilitas perawatan jangka panjang
  2. Penderita penyakit paru kronis atau asma sedang hingga berat,
  3. Orang yang memiliki kondisi jantung serius
  4. Pengobatan kanker Orang yang immunocompromised termasuk pengobatan kanker
  5. Kekebalan Tubuh Menurun. Orang-orang dari segala usia dengan obesitas parah (indeks massa tubuh [BMI]> 40) atau kondisi medis tertentu yang mendasarinya, terutama jika tidak dikontrol dengan baik, seperti penderita diabetes, gagal ginjal, atau penyakit hati mungkin juga berisiko.
  6. Orang hamil Orang yang hamil harus dipantau karena mereka diketahui berisiko dengan penyakit virus yang parah, namun, hingga saat ini data tentang COVID-19 belum menunjukkan peningkatan risiko.
  7. Kondisi Kekebalan menurun buruk. Banyak kondisi yang dapat menyebabkan seseorang menjadi immunocompromised, termasuk perawatan kanker, sumsum tulang atau transplantasi organ, defisiensi imun, HIV atau AIDS yang tidak terkontrol dengan baik, dan penggunaan kortikosteroid yang berkepanjangan dan obat pelemah kekebalan lainnya.
  8. Pernah mengalami riwayat sering dirawat di Rumah Sakit. Riwayat sering dirawat di Rumah Sakit dalam usia < 1 tahun dirawat 3 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 4 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 3 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun atau dewasa mengalami lebih 1 kali pertahun.
  9. Pernah mengalami infeksi virus yang berulang hilang timbul berkepanjangan berupa sering batuk, asma, pilek, nyeri tenggorokan, suara parau. Gangguan infeksi virus yang berulang hilang timbul berkepanjangan berupa sering batuk, asma, pilek, nyeri tenggorokan, suara parau, mudah lemas, badan sering ngilu atau pegal atau mudah badan teraba hangat atau meriang dan kadang demam. Berbagai gejala itu sering sulit dibedakan dengan gangguan alergi padahal lebih sering terinfeksi virus.  Pernah mengalami riwayat mudah mengalami infeksi virus batuk, pilek, sesak dan nyeri tenggorokan berulang pada anak usia < 1 tahun  mengalami infeksi lebih dari 10 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami lebih dari 12 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami lebih dari 8 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun dan dewasa mengalami lebih dari 6-7 kali pertahun. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan sulit dibedakan dengan gangguan alergi karena dokter juga sering terkecok gangguan flu berulang dianggap sebagai alergi. Kondisi seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infkesi flu atau virus berulang menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun
  10. Pernah mengalami nyeri telinga saat batuk atau pilek, infeksi telinga, atau Otitis media Akut (bahasa awam penyakit congek telinga). Kondisi seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infkesi flu atau virus berulang batuk dan pilek. Hal ini bisa menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun
  11. Pernah mengalami pembesaran amandel atau tonsilitis akut atau kronis atau sinusitis. Penderita yang mengalami tonsillitis atau sinusitis hampir semuanya sebelumnya sering mengalami batuk dan pilek berulang.
  12. Pernah mengalami pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala bagian belakang. Kondisi seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infkesi flu atau virus berulang menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun
  13. Pernah mengalami infeksi berat seperti pnemonia. Riwayat terkena infeksi pnemonia biasa terjadi pada penderit yang mempunyai riwayat sering terkena infeksi batuk atau pilek hilang timbul berkepanjangan. Kondisi seperti ini menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun.
  14. Pernah mengalami overdiagnosis TBC padahal tidak mengalami infeksi tersebut. Gangguan alergi, batuk berkepanjangan, Berat badan sulit naik dan terkena penyakit infeksi virus berulang gejalanya mirip TBC. Bila tidak cermat sulit dibedakan dengan berbagai infeksi yang lain terutama infeksi virus yang berulang hilang timbul. Riwayat kesehatan seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infeksi flu atau virus berulang menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun
  15. Pernah mengalami riwayat sering mendapatkan overtreatment atau pemberian antibiotika yang berlebihan terlalu sering, Bila seseorang mengalami riwayat pemberian antibiotika berulang biasanya mengalami infeksi virus berulang. Padahal sebagian besar infeksi yang terjadi adalah infeksi virus yang seharusnya tanpa pemberian antibiotika sembuh sendiri. Kondisi seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infeksi flu atau virus berulang menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun
  16. Pernah mengalami riwayat overtreatment penyakit Tifus atau sering menunjukkan hasil laboratorium positif tifus. Karena bila terjadi infeksi virus saat diperiksa tes widal nilainya tinggi padahal belum tentu terkena tifus. Sehingga beberapa penderita sering mengaku mudah terkena penyakit tifus padahal bukan karena infeksi tifus tetapi ternyata infeksi virus biasa yang berulang. Riwayat kesehatan seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infkesi flu atau virus berulang bisa saja menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun atau tidak stabil
  17. Pernah mempunyai riwayat pemeriksaan lekosit tinggi sekali di atas 20.000 103/µl. Bila sakit flu atau infeksi virus berulang dalam waktu berdekatan hilang timbul bila berkepanjangan akan terjadi infeksi yang berat sehingga terjadi demam tinggi gambaran lekosit tinggi dalam darah biasanya di atas lekosit hasilnya lebih dari 20.000 103/µl . Kondisi seperti ini biasa mempunyai kecenderungan mudah terkena infeksi flu atau virus berulang  dan bisa menjadi petunjuk kekebalan tubuh menurun.
Baca  BPOM: Penelitian Kombinasi Obat Covid-19 Unair Belum Valid, Izin Edar Masih Jauh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Whatsapp Obat, Chat Di Sini