INFO OBAT INDONESIA

Desinfektan Semprot Tubuh Tak Dianjurkan WHO, Tidak Efektif Justru Bahaya

Desinfektan Semprot Tubuh Tak Dianjurkan WHO, Tidak Efektif Justru Bahaya

Audi Yudhasmara

Ketika wabah Covid19 menyerang dengan cepat bukan hanya masyarakat, semua pihak tak terkecuali menjadi panik. Sehingga tindakan pencegahan yang tidak direkonedasikan para ahli kesehatan khususnya WHO pun dilakukan secara berlebihan tanpa memahami bahaya tindakan tersebut. Salah satunya adalah penyemprotan desinfektan dan paparan sinr UV pada tubuh. Bukan hanya masyarakat,  Istana Presiden, Kantor instansi pemerintah dan kantor swasta yang lainnyapun beramai ramai melakukannya. Bahkan walikota Surabaya dengan bangganya menunjukkan alat desinfeksi penyemprotan tubuh tersebut yang akan dipesankan secara masal di kota Surabaya. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia memperingatkan publik untuk tak menyemprotkan atau memakainya langsung ke tubuh manusia. Sebab beberapa kandungan dalam larutan disinfektan justru menyimpan risiko kesehatan.

Cairan disinfektan ramai digunakan demi menekan jumlah mikroorganisme di tengah pandemi virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Penggunaan disinfektan jadi marak disemprotkan di jalan hingga pembuatan bilik atau chamber. Demikian juga Istana Kepresidenan terus melakukan pengetatan prosedur untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19 di lingkungan Istana. Di Istana Kepresidenan Jakarta, mulai Senin (16/3/2020) hari ini mulai diberlakukan penyemprotan disinfektan bagi pengunjung. Setiap pengunjung yang akan menuju Istana Negara, Istana Merdeka dan Kantor Presiden harus masuk ke dalam sebuah ruangan kecil. Begitu masuk, cairan disinfektan langsung disemprotkan ke sekujur tubuh. “Itu bentuknya seperti lemari, kita masuk ke dalamnya. Kalau pintu sudah ditutup, otomatis nyemprot,” kata Mukhlis, salah satu wartawan radio yang mengunjungi istana hari ini. Salah satu petugas pengamanan dalam Istana Benny Fransir mengatakan, alat tersebut bernama disinfektan Chamber. “Fungsinya untuk mensterilkan full-body, pegawai, tamu, pejabat, semua yang mau ke area istana diwajibkan memasuki alat ini. Untuk disterilkan full-body-nya dari kuman-kuman yang kemungkinan melekat,” kata dia. Sebelumnya, sejumlah prosedur lain juga sudah dilakukan untuk mencegah masuknya virus corona jenis baru ke lingkungan Istana.

Baca  Cuci tangan, Hand Sanitizer dan Virus Corona Covid19

Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia memperingatkan publik untuk tak menyemprotkan atau memakainya langsung ke tubuh manusia. Sebab beberapa kandungan dalam larutan disinfektan justru menyimpan risiko kesehatan. “Menyemprot bahan-bahan  kimia seperti itu dapat membahayakan jika terkena pakaian atau selaput lendir, contohnya mata dan mulut,” tulis cuitan dari akun resmi WHO Indonesia di Twitter WHO, Minggu (29/3).

 

Bahan kimia yang dimaksud adalah alkohol atau klorin yang umumnya terdapat dalam kandungan bahan cairan disinfektan. Menyemprotkan disinfektan ke tubuh manusia, menurut keterangan WHO, sebetulnya juga tidak bisa membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh.

 

Dampak Buruk Desinfektan Khlorin

  • Membuat kulit kering Klorin membuat kulit menjadi kering dan sebagian orang lainnya merasa kulit mereka menjadi busik dan iritasi setelah berenang dengan air yang memiliki kandungan klorin. Menurut Dr Debra Jaliman, juru bicara American Academy of Dermatology, penting untuk mandi setelah berenang dan menerapkan pelembab untuk menetralisir kandungan klorin yang menempel pada tubuh.
  • Membuat rambut rapuh Dr. Adam Friedman seorang Professor Dermatology dan Director of Supportive Oncodermatology di George Washington School of Medicine and Health Sciences mengatakan bahwa klorin juga dapat membuat rambut menjadi rapuh. Klorin menghilangkan sebum, sebuah minyak esensial yang ada di rambut dan menyebabkan rambut bercabang. Klorin bahkan dipercaya dapat mengubah warna rambut.
  • Iritasi mata. Klorin juga dapat membuat mata menjadi iritasi. Meski masih harus diteliti lebih jauh apakah ada efek jangka panjang, tapi klorin adalah penyebab kenapa mata menjadi kering, gatal dan merah setelah berenang. Karenanya, kontak berkepanjangan dengan klorin sangatlah tidak disarankan, dan kita harus mengambil langkah untuk memastikan kulit dan rambut tidak berubah menjadi kering berlebihan. Meski begitu, klorin tetap penting dalam kolam renang untuk menghentikan penyebaran penyakit dan virus.
  • Klorin adalah gas beracun yang menyerang sistem pernapasan, mata, dan kulit. Karena kerapatannya lebih tinggi dari udara, gas ini cenderung akan terakumulasi pada dasar ruangan dengan ventilasi yang buruk. Gas klorin adalah oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan zat yang mudah terbakar.
  • Klorin dapat terdeteksi dengan alat ukur dengan konsentrasi mulai 0.2 bagian per juta (ppm), dan akan tercium mulai. Batuk dan muntah dapat muncul pada kadar 30 ppm dan kerusakan paru-paru pada kadar 60 ppm. Pada kadar 1000 ppm akan sangat fatal setelah terhirup beberapa kali. Kadar konsentasi IDLH (immediately dangerous to life and health) adalah 10 ppm. Menghirup gas ini pada konsentrasi rendah dapat mengganggu sistem pernapasan dan paparan gas ini dapat menyebabkan iritasi mata. Sifat beracun klorin ini muncul dari kemampuan oksidasinya. Ketika klorin terhirup pada konsentrasi diatas 30 ppm, maka senyawa ini akan bereaksi dengan air dan cairan sel menghasilkan asam klorida (HCl) dan asam hipoklorat (HClO).
  • Ketika digunakan sebagai desinfektan pada level tertentu, reaksi klorin dengan air tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Material lain yang ada dalam air dapat saja menghasilkan produk samping desinfektan yang dapat berakibat negatif pada kesehatan manusia.
Baca  OBAT-OBATAN YANG TIDAK TERBUKTI MELAWAN COVID-19

Rekomendasi Aman

  • Di Amerika Serikat, Occupational Safety and Health Administration (OSHA) telah mengatur batas paparan yang diperbolehkan untuk klorin sekitar 1 ppm, atau 3 mg/m3. National Institute for Occupational Safety and Health menetapkan batas paparan yang direkomendasikan sekitar 0.5 ppm maksimum 15 menit.
  • Di rumah, beberapa kali terjadi kasus dimana cairan hipoklorit terkontak dengan pembersih saluran pembuangan yang bersifat asam, dan menghasilkan gas klorin. Cairan hipoklorit (merupakan aditif binatu yang populer) dicampur dengan amoniak akan menghasilkan kloroamina, grup senyawa kimia lain yang beracun.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Whatsapp Obat, Chat Di Sini