INFO OBAT INDONESIA

TERAPI OBAT DEMAM CHIKUNGUNYA

PENATALAKSANAAN DEMAM CHIKUNGUNYA

Dr Widodo Judarwanto pediatrician

Dalam waktu beberapa bulan terakhir ini ancaman penyakit demam Chikungunya mulai mengancam kota Jakarta. Demam Chikungunya sering dianggap sebagai penyakit yang berbahaya, sehingga kadang membuat kepanikan. Beberapa orang meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Pendapat ini timbul karena penderita biasanya merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak berani menggerakkan anggota tubuh, tetapi bukan berarti terjadi kelumpuhan. Bahkan penyakit ini tidak mengakibatkan ancaman jiwa bagi penderitanya. Chikungunya berasal dari bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini terjadi pada lutut pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki.Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIVK termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.

PENULARAN PENYAKIT DAN PENYEBARAN PENYAKIT

  • Penyebaran CHIVK dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. Nyamuk dapat menjadi berpotensi menularkan penyakit bila pernah menggigit penderita demam chikungunya. Kera dan beberapa binatang buas lainnya juga diduga dapat sebagai perantara (reservoir) penyakit ini. Nyamuk yang terinfeksi akan menularkan penyakit bila menggigit manusia yang sehat.
    Aedes aegypti (the yellow fever mosquito) adalah vektor utama atau pembawa CHIVK. Aedes albopictus (the Asian tiger mosquito) mungkin juga berperanan dalam penyebaran penyakit ini di kawasan Asia. Dan beberapa jenis spesies nyamuk tertentu di daerah Afrika juga ternyata dapat menyebarkan penyakit Chikungunya.
  • Masih belum diketahui secara pasti bagaimana virus tersebut menyebar antar negara. Mengingat penyebaran CHIVK antar negara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk. Dewasa ini makin sering berbagai penyakit hewan dari tengah hutan yang merebak (spill over) ke permukiman penduduk. Sebutlah di antaranya St Louis Encephalitis dan Sungai Nil Barat (West Nile), yang telah menimbulkan banyak korban. Peredaran virus memang tak bisa lagi dibatasi oleh posisi geografi. Hutan yang tadinya tertutup menjadi terbuka, daerah yang dulu terisolir kini bisa dengan mudah berhubungan ke mana saja. Moda perpindahan virus bisa berupa apa saja.
  • Pada era globalisasi yang serba cepat seperti sekarang ini, seseorang hari ini dapat berada di Eropa atau Afrika, dan esok harinya sudah berada di benua lainnya seperti di Bali atau Jakarta. Dengan pola perpindahan penduiduk yang sangat cepat ini, sangat potensial terjadi penyebaran berbagai macam penyakit termasuk virus. Orang yang tertular penyakit di suatu negara bisa saja membawanya ke Indonesia. Penyakit yang dibawa ada yang dapat hilang dengan sendirinya, namun dapat pula berlanjut siklusnya bila faktor pendukungnya ada. Perdagangan satwa langka yang cukup mendapat sorotan beberapa waktu lalu, bisa saja membawa serta virus dari hutan ke tempat yang jauh di negeri orang. Belum lagi nyamuk yang dapat menyelundup ke dalam kabin pesawat terbang dan beterbangan di Indonesia.

DIAGNOSIS DAN MANIFESTASI KLINIS

  • Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini hanya bermanfaant digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat untuk kepentingan praktis klinis sehari-hari.
  • Masa inkubasi terjadinya penyakit sekitar dua sampai empat hari, sementara manifestasinya timbul antara tiga sampai sepuluh hari. Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Dalam beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus chikungunya.
  • Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari.
  • Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Gejala lain yang ditimbulkan adalah mual, muntah kadang disertai diare.
    Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
  • Penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tidak akan menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti semula. Penderita dalam beberapa waktu kemudian bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Meskipun dalam beberapa kasus kadang rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai riwayat sering nyeri tulang dan otot.
  • Pada pendertita demam Chikungunya tipikal akut mengalami gejala klinis dalam beberapa hari hingga 2 minggu. Tetapi seperti infeksi dengue, West Nile fever, o’nyong-nyong fever dan demam arbovirus lainnya, beberapa penderita mengalami kelelahan berkepanjangan ”prolonged fatigue” dalam beberapa minggu. Dalam beberapa literatur tidak pernah dilaporkan kejadian kematian, kasus neuroinvasive, dan kasus perdarahan dalam penyakit ini..
  • Meskipun ditularkan oleh nyamuk yang sama dengan penyakit demam berdarah, tetapi karakteristik penyakit ini berbeda. Bedanya pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian.
    Setelah terjadi infeksi virus ini tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, dalam jangka panjang penderita relatif kebal terhadap penyakit virus ini.
Baca  10 Mitos Tidak Benar Tentang Penyebab FLU, Demam, Batuk dan Pilek.

PENANGANAN

  • Tidak ada pengobatan antivirus khusus yang tersedia untuk demam Chikungunya.
  • Penting untuk menyingkirkan infeksi serius lainnya yang mirip dengan demam Chikungunya seperti demam berdarah, malaria, atau infeksi bakteri.
  • Setelah infeksi lain disingkirkan, penatalaksanaan meliputi hidrasi, pemantauan status hemodinamik, pengumpulan spesimen darah untuk diagnosis, dan terapi antipiretik. Arthralgia berat dapat ditangani dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDS) (setelah demam berdarah disingkirkan) dan fisioterapi. Kontrol glikemik yang buruk pada pasien diabetes yang memiliki infeksi Chikungunya telah dilaporkan. Penting untuk memantau glukosa darah dengan cermat pada pasien ini.
  • Bukti yang dipublikasikan tidak merekomendasikan penggunaan kortikosteroid atau agen antivirus.
  • Meskipun vaksin untuk virus Chikungunya tampak menjanjikan, prosesnya telah terhambat oleh heterogenitas serotipe, perubahan genetik, kurangnya model hewan, dan kelangkaan studi tentang tanggapan kekebalan terhadap virus.
  • Perawatan konservatif termasuk manajemen ketidakseimbangan elektrolit, azotemia prerenal, dan pemantauan hemodinamik berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Penggunaan kortikosteroid, NSAIDS (terutama aspirin), dan antibiotik lain secara sembarangan dapat menyebabkan trombositopenia, gastritis, perdarahan gastrointestinal, dan gagal ginjal dan secara tidak langsung berkontribusi pada kematian secara keseluruhan.

PENCEGAHAN

  • Satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya Nyamuk ini, senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih.
    Nyamuk bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Selain itu, nyamuk ini juga menyenangi tempat yang gelap dan pengap.
  • Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya.
  • Malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung. Namun, pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.
  • Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan seperti sekarang. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut.
  • Pencegahan individu dapat dilakukan dengan cara khusus seperti penggunaan obat oles kulit (insect repellent) yang mengandung DEET atau zat aktif EPA lainnya. Penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga dianjurkan untuk dalam keadaan daerah tertentu nyang sedang terjadi peningkatan kasus
Baca  Obat Pilihan Flu Pilek atau Decongestan dan Efek Sampingnya

DAFTAR PUSTAKA

1. ADESINA (OA) & ODELOLA (HA) – 1991 – Ecological distribution of Chikungunya haemagglutination inhibition antibodies in human and domestic animals in Nigeria. Tropical and Geographical Medicine, 43: 3 (JUL 1991), pp. 271-275.
2. ANONYME – 1991 – Aedes albopictus Introduction into Continental Africa, 1991. M.M.W.R., 40, (48): pp. 836 – 838. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/ CRORA/res9/re5071.htm)
3. BLACKBURN (NK), BESSELAAR (TG) & GIBSON (G) – 1995 – Antigenic relationship between chikungunya virus strains and o’nyong nyong virus using monoclonal antibodies. Research in Virology, 146: 1 (JAN-FEB 1995), pp. 69-73. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res2/re823.htm)
4. BLOW (JA), DOHM (DJ), NEGLEY (DL) & MORES (CN) – 2004 – Virus inactivation by nucleic acid extraction reagents. Journal of Virological Methods, 119 (2): pp. 195-198. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res11/re6519.htm)
5. BOORMAN (JPT) & DRAPER (CC) – 1968 – Isolations of arboviruses in the Lagos area of Nigeria, and a survey of antibodies to them in man and animals. Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene, vol. 62 (2), pp. 269-277. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res2/re849.htm)
6. BRES (P) & HERY (G) – 1969 – Cinétique de la production des anticorps inhibiteurs de l’hémagglutination et fixateurs du complément chez la souris immunisée avec les virus Chikungunya, O’nyong-nyong et Sindbis. 3: Influence de l’intervalle entre les inoculations et de l’emploi des adjuvants. Revue d’Immunologie, 33 (3): pp. 147-153. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res8/re4765.htm)
7. BRIGHTON (SW), PROZESKY (OW) & DE LA HARPE (AJ) – 1983 – Chikungunya virus infection : a retrospective study of 107 cases. S. Afr. Med. J., 63, (9), pp. 313-315.
8. BUCKLEY (SM), SINGH (KRP) & BHAT (UK) – 1975 – Small and large plaque variants of Chikungunya virus in two vertebrate and seven invertebrate cell lines. Acta Virologica; 19 (1): pp. 10-18. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res2/re899.htm)
9. CALISHER (CH) & SHOPE (RE) – 1980 – Proposed antigenic classification of registered arboviruses. I – Togaviridae, Alphavirus. Intervirology, 14, 5-6, pp. 229-232. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res2/re921.htm)
10. CALISHER (CH), EL-KAFRAWI (AO), AL-DEEN MAHMUD (ML), TRAVASSOS DA ROSA (APACASALS (J) – 1961 – Procedures for identification of arthropod-borne viruses. Bulletin OMS, 24: pp. 723-734. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/ banques/CRORA/ res9/re5131.htm)
11. CAUSEY (OR), KEMP (GE), MADBOULY (MH) & LEE (VH) – 1969 – Arbovirus surveillance in Nigeria, 1964-1967. Bulletin de la Société de Pathologie Exotique, 62, pp. 249-253. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/ res7/ re3982.htm) 27 – CHANAS (AC), JOHNSON (BK) & SIMPSON (DIH) – 1976 – Antigenic relationships of Alphaviruses by a simple micro-culture cross-neutralization method. Journal of General Virology, 32, pp. 295-300. Résumé (http://www.pasteur.fr/ recherche/banques/CRORA/res9/re5078.htm)
12. CHANAS (AC), JOHNSON (BK) & SIMPSON (DI) – 1978 – Chikungunya virus in vivo autointerference associated with a small plaque variant. Acta Virologica, 22 (6): pp. 485-490.Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/res11/re6054.htm)
13. CHANAS (AC), HUBALEK (Z), JOHNSON (BK) & SIMPSON (DIH) – 1979 – A comparative study of O’Nyong-Nyong virus with Chikungunya virus and plaque variants. Archives of Virology, 59 (3), pp. 231-238. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res2/re976.htm)
14. CHANAS (AC), JOHNSON (BK) & SIMPSON (DIH) – 1979 – Characterisation of two Chikungunya virus variants. Acta Virologica, 23, (2), pp. 128-136. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res2/re977.htm)
15. HALSTEAD (SB), SCANLON (JE), UMPAIVIT (P) & UDOM-SAKDI (S) – 1969 – Dengue and Chikungunya virus infection in man in Thailand (1962-1964). IV. Epidemiologic studies in the Bangkok metropolitan area. American Journal of Tropical Medicine & Hygiene, 18, (6), pp. 997-1021. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res3/re1476.htm)
16. HALSTEAD (SB), SUCHIDA (UD), SCANLON (JE) & LAKOL (R) – 1969 – Dengue and Chikungunya virus infection in man in Thailand (1962-1964). V. Epidemiologic observations outside bangkok. American Journal of Tropical Medicine & Hygiene, 18, (6), pp. 1022-1033. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/ banques/CRORA/res3/re1477.htm)
17. HALSTEAD (SB), SUCHINDA (UD), PRICHA (S) & AWANDA (N) – 1969 – Dengue and Chikungunya virus infection in man in Thailand (62-64). III. Clinical, epidemiologic and virologic observations on disease in non indigenous white persons. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 18 (6), pp. 984-996. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res3/re1478.htm)
18. HALSTEAD (SB), SUCHITRA (N) & MARGIOTTAS (MM) – 1969 – Dengue and Chikungunya virus infection in man in Thailand, 1962-1964. II. Observations on disease in outpatients. American Journal of Tropical Medicine & Hygiene, 18, (6), pp. 972-983. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/res3/re1479.htm) Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res12/re6921.htm)
19. HORZINEK (MC) – 1973 – Comparative aspects of Togaviruses. Journal of General Virology, 20: pp. 87-103. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/ banques/CRORA/res9/re4836.htm)
20. HORZINEK (MC) – 1975 – The structure of togaviruses and bunyaviruses. Med. Biol., 53 (5): pp. 406-411. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/ banques/CRORA/res11/re6241.htm)
21. HOTTA (S) – 1972 – Sero-epidemiology of arboviruses in Indonesia. Kobe J. Med. sci.,18, pp. 211-214. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/ banques/CRORA/res8/re4785.htm)
22. HUBALEK (Z) – 2003 – Emerging Human Infectious Diseases: Anthroponoses, Zoonoses, and Sapronoses. Emerging Infectious Diseases, 9, (3), March 2003: pp. 403-404. Résumé
23. IGARASHI (A) – 1978 – Isolation of a Singh’s Aedes albopictus cell clone sensitive to Dengue and Chikungunya viruses. Journal of General Virology, 40 (3), pp. 531-544. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res3/re1588.htm) 96
24. IGARASHI (A) – 1979 – Production of temperature-sensitive and pathogenic virus from Aedes albopictus cells (Singh) persistently infected with Chikungunya virus. Archives of Virology, 62 (4): pp. 303-312. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/ res3/ re1589.htm)
25. INOUE (S), MORITA (K), MATIAS (RR), TUPLANO (JV), RESUELLO (RRG), CANLARIO (JR), CRUZ (DJM), MAPUA (CA), HASEBE (F), IGARASHI (A) & NATIVIDAD (FF) – 2003 – Distribution of three arbovirus antibodies among monkeys (Macaca fascicularis) in the Philippines. Journal of Medical Primatology, 32 (2): pp. 89-94. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res9/re5145.htm) 99 – 102 – JUPP (PG) & McINTOSH (BM) – 1990 – Aedes furcifer and other mosquitoes as vectors of chikungunya virus at Mica, northeastern Transvaal, South Africa. Journal of the American Mosquito Control Association, 1990 Sep; 6 (3): pp. 415-420. Résumé (http://www.pasteur.fr/recherche/banques/CRORA/res3/re1673.htm)

Материалы по теме:

Obat Pilihan Flu Pilek atau Decongestan dan Efek Sampingnya
Dekongestan adalah obat-obatan yang meredakan hidung tersumbat dengan cara mengurangi pembengkakan, peradangan, dan pembentukan lendir di dalam saluran hidung atau mata. Obat tersebut tidak ...
Obat Pilihan Untuk Gangguan Pencernaan Motilitas Usus
Gangguan motilitas usus berlaku untuk kontraksi usus abnormal, seperti kejang dan kelumpuhan usus. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan berbagai gangguan di mana usus telah ...
Penyakit Tetanus dan Pencegahan Imunisasi
 
Baca  Penyebab Infeksi Virus Corona Covid19
Tetanus yang juga dikenal dengan lockjaw. merupakan penyakit yang disebabkan oleh tetanospasmin, yaitu sejenis neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani yang menginfeksi sistem urat saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi kaku (rigid). Kitasato ...
Kaletra Obat Kombinasi HIV Untuk Terapi Virus Corona Covid19
Kaletra Obat Kombinasi HIV untuk Terapi Virus Corona Covid19 Ilmuwan Cina sedang menguji dua obat antivirus terhadap virus corona baru dan hasil uji coba klinis ...
Anti Malaria Hidroksiklorokuin dan Klorokuin, Sebagai Anti Virus Covid19 Dengan Bukti ilmiah Tidak Menjanjikan
Pandemi Covid-19 adalah salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi pengobatan modern. Para dokter dan ilmuwan berebut menemukan pengobatan dan obat yang dapat menyelamatkan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Whatsapp Obat, Chat Di Sini